DARI KAMI UNTUK NEGERI
Di
era modernisasi yang disertai derasnya arus globalisasi telah mengguncang
setiap belahan dunia, termasuk di Indonesia. Ekonomi, sosial budaya, politik
dan tentu teknologi yang jika sekejap saja kita lengah, maka tertinggallah sudah.
Untuk menghadapinya, diperlukan Sumber Daya Manusia (SDM) dengan pengetahuan
yang mumpuni baik secara teori maupun praktek di lapangan. Salah satu jalannya
yaitu melalui “pendidikan”.
Pendidikan yang seperti apa, bukankah Indonesia telah memiliki wajib dikdas
Sembilan tahun, ribuan sekolah menengah dengan prestasi yang bersaing ketat,
bahkan sebagian besar lulusannya telah mendapat pekerjaan. Lalu pendidikan yang
seperti apa lagi?
Sebatas
inikah pemikiran kita? Tidak inginkah meraka menjadi subjek penggerak
perekonomian, pencetus ide-ide brilliant untuk menggerakan roda pemerintahan.
Tidak inginkah menjadi pemikir-pemikir
yang tercatat dalam sejarah dunia ilmu pengetahuan, tak adakah yang ingin
membawa peribumi selangkah lebih maju dari ketertinggalan dan keterbelakangan .
Indonesia butuh generasi yang mampu membawa bangsa ke arah yang lebih baik,
memiliki semangat perubahan ke arah yang lebih maju.
Tidak
dapat dipungkiri, sebagai Negara multikultural yang sedang berkembang, pendidikan di Indonesia masih memiliki
beberapa kendala yang berdampak pada mutu pendidikan. Baik dari segi geografis,
sosial ekonomi, bahkan budaya. Sebagai Negara kepulauan, letak geogafis memang
terasa menjadi penyebab ketidak merataan dalam bidang pembangunan, pendidikan, kualitas
dan ketesediaan SDM yang berdampak pada kesenjangan ekonomi.
Kehadiran
Universitas dengan metode pembelajaran yang inovatif sangat di perlukan untuk
merubah paradigma lama yang berkutat pada pemahaman bahwa pendidikan tinggi
hanya untuk orang-orang kelas ekonomi menengah atas, sulit di jangkau oleh
mereka yang berada di pedesaan atau di bagian terluar Indonesia, system
pembelajaran tatap muka dan full time sehingga tidak ada kesempatan untuk
kuliah sambil berkarier, dll.
Universitas Terbuka
sebagai Perguruan Tinggi Negeri ke-45 di
Indonesia yang diresmikan pada tanggal 4 september 1984 berdasarkan Keputusan
Presiden RI No. 41 tahun1984.
Sebagai Perguruan Tinggi yang penerapkan
sistem “pendidikan terbuka dan jarak
jauh (PTJJ)“ kehadiran Universitas Terbuka mampu menjadi angin segar bagi dunia
pendidikan Indonesia. Konsep PTJJ berbeda dengan “kelas Jauh” yang secara status
dinyatakan illegal di Indonesia sesuai Edaran Dirjen Dikti No. 2360/D/T/2000 dan surat
Edaran Dirjen Dikti No. 1017/E/T/2011 sehingga ijazah lulusan kelas jauh tidak diakui pemerintah, baik untuk
kepentingan seleksi CPNS maupun kenaikan pangkat dan jabatan di pemerintahan.
PTJJ sendiri merupakan
gabungan dari konsep pendidikan terbuka dan jarak jauh. Makna "jarak jauh" berarti pembelajaran tidak
dilakukan secara tatap muka, melainkan melalui media, baik cetak (modul) maupun
non-cetak (audio/video, computer/internet, tv/radio). Makna "terbuka" artinya tidak ada batasan usia,
tahun ijazah, masa belajar, waktu registrasi dan frekuensi mengikuti ujian.
Dengan demikin UT memberi kesempatan
luas bagi setiap orang diseluruh tanah air bahkan yang berada di luar negeri
untuk dapat melanjutkan pendidikan tinggi dan terbuka bagi semua kalangan yang
telah lulus Sekolah Menengah Atas/Kejuruan tanpa dibatasi usia dan profesi.
more info :
Sistem
pembelajaran yang diterapkan dirasa sangat efektif bagi mereka yang tidak bisa
melakukan perkuliahan secara tatap muka karena berbagai alasan. Dengan
penekanan pada model belajar mandiri (value added of learning obtained
as the result of students’ self-directed/independent learning process) yang
menghendaki mahasiswa untuk belajar atas prakarsa dan inisiatif sendiri memungkinkan
mahasiswanya untuk terus menggali wawasan secara luas dan tidak ketergantungan
terhadap dosen atau pada pembelajaran di dalam kelas. Mereka bisa melakukan
pembelajaran secara perorangan dengan menggali dari sumber-sumber yang
tersedia, ataupun belajar secara bersama/kelompok dan memungkinkan juga melalui
pemanfaatan teknologi yang ada yaitu melalui internet atau media sosial untuk saling berkomunikasi dan bertukar
pikiran dengan mahasiswa lainnya. Hal ini berdampak positif bagi
terlahirnya generasi-generasi yang kreatif,
mandiri, kritis menanggapi perubahan dan problematika kehidupan
masyarakat serta memiliki pemikiran luas untuk dapat bersaing dalam kehidupan
global.
Namun
demikian , penulis selaku mahasiswa Universitas Terbuka tak menampik masih banyak stigma-stigma negative mengenai universitas
terbuka yang tersebar di masyarakat. Mulai dari UT adalah kampusnya untuk
mengejar kesetaraan guru, ijazah UT sulit untuk cari kerja, kuliah di UT
gampang masuk susah lulus, susah dapet nilai bagus, kualitas mahasiswa UT
diragukan karena belajarnya aja online, bahkan masih ada yang bilang kalau UT
ijazahnya nebeng dari Universitas lain, dan masih banyak yang lainnya.
Jujur,
sering merasa tersudut ketika menghadapi pertanyaan-pertanyaan seperti itu,
pernah juga merasa minder dan berkecil hati. bahkan rasanya lidah ini kelu untuk
memperkenalkan bahwa “saya mahasiswa Universitas Terbuka”.
Banar
saja, tak kenal maka tak sayang. Setelah beberapa lama kuliah di UT, mengenal
dan mencoba mencari tahu seputar UT. Ternyata semua stigma mereka salah.
Perlu
kita ketahui bahwa universitas terbuka adalah Pergurua Tinggi Negeri yang
legal. Sudah diakui baik di dalam negeri dan juga dunia. Hal ini ditunjukkan
dengan peran aktif UT dalam organisasi
PTJJ tingkat dunia seperti Open
Education Consortium (OEC), Asian
Association of Open Universities (AAOU) sebagai anggota Executive Board, The International Council for Open and
Distance Education (ICDE) yang merupakan organisasi dunia di bidang
PTJJ dimana Rektor UT menjadi presidennya, dan akhir-akhir ini UT dipercaya
untuk mengelola ICDE Operational
Network Asia Pasific yang merupakan kepanjangan tangan dari ICDE
untuk tingkat regional.
Yang
terbaru adalah diundangnya UT untuk ikut serta dalam pameran Ritech Expo yang
diadakan di kawasan stadion Manahan, Surakarta pada tanggal 10-13 Agustus 2016
dalam rangka Peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (HARTEKNAS).
Pameran dititikberatkan pada program-program layanan pembelajaran jarak jauh
yang memanfaatkan inovasi teknologi secara maksimal oleh UT untuk memberi
kemudahan belajar mahasiswa UT yang ada di pelosok negeri. Selain kemudahan, UT
juga mengenalkan kepada masyarakat yang berada di pameran dengan produk unggulan
UT berbasis teknologi terkini yang digunakan oleh mahasiswa pada saat menempuh
studi di UT.
more info :
Universitas
Terbuka juga telah mendapatkan akreditasi, baik akreditasi nasional maupun
internasional. Secara internasional, UT telah memperoleh Akreditasi
Internasional dan Sertifikasi Kualitas dari the International Council for Open
and Distance Education (ICDE) Standard Agency (ISA), dan UT telah mendapatkan
sertifikasi ISO 9001:2000 dari Badan Sertifikasi SAI Global dan SGS. Di samping
itu, sebagian besar program studi di UT telah mendapatkan akreditasi dari Badan
Akreditasi Nasional Perguruan TInggi (BAN-PT).
Dengan
demikian, dapat disimpulkan bahwa:
1) Masalah
nilai dan ketepatan lulus, yang salah bukan institusinya tapi bagaimana pola
kita kita belajar dan tekad untuk berhasil. Yang penting harus memiliki minat
belajar, disiplin dan komitmen.
2) Untuk
hal pekerjaan, setiap orang memiliki kesempatan yang sama tinggal bagaimana
kita mempersiapkan diri menjadi pribadi yang berkualitas. Ijazah UT memiliki
civil effect yang sama dengan ijazah yang dikeluarkan PTN lain. Kalau memang
lulusan UT susah diterima di dunia kerja, lantas kenapa sampai saat ini masih
banyak yang mendaftar ke UT. Berdasarkan data yang diambil pada 7 Juli 2016,
jumlah mahasiswa UT mencapai 299.317 orang, dengan rinciang :
- Berdasarkan fakultas dan program
- Berdasarkan kelompok umur
- Mahasiswa yang berada di luar Negeri
So, jika
mereka masih mengatakan UT adalah kampusnya guru atau apalah, sepertinya mereka
kurang update mengenai perkembangan pendidikan di UT atau terlalu banyak mendengar katanya tanpa
mencari kebenarannya.
Lulusan
UT pun tak kalah hebat dengan lulusan perguruan tinggi lain. Hal ini terlihat
dari sederet lulusannya yang mampu mengguncang tanah air bahkan dunia. Mereka
mampu mengharumkan negeri dengan prestasinya. UT telah melahirkan jutaan
lulusan yang professional dan
berkompeten dibidangnya. Telah lahir pula para pemikir dan penggerak serta
penggebrak perubahan dalam pembangunan Tanah Air.
Melalui
pendidikan, empat windu Universitas Terbuka berjaya mengibarkan sayap membangun
negeri . Belum dapat dibilang tua, namun tidak juga seumur jagung. Berdiri
diatas hukum yang berlaku di Tanah Air,
dari Nias sampai Pulau Rote kau tebarkan sinar-sinar penerang negeri. Kau
tumbuhkan ambisi-ambisi para pejuang untuk melanjutkan pembangunan negeri,
perbaikan pemerintahan menuju Good governance, perbaikan perekonomian menghadapi
dunia global, pendidikan yang berkualitas dan penguasaan teknologi menghadapi
derasnya arus globalisasi. jutaan generasi emas
telah kau lahirkan.
Bersama Universitas Terbuka kami siap mempertahankan kemerdekaan dan
menjaga keselamatan NKRI, DARI KAMI UNTUK NEGERI.
Salam Generasi Emas,
Maya Sofa
Mahasiswi S1 Ilmu Pemerintahan,
FISIP UT
“Tulisan
ini dibuat untuk mengikuti lomba blog dari Universitas Terbuka dalam rangka
memperingati HUT Universitas Terbuka ke-32. Tulisan adalah karya saya sendiri dan
bukan jiplakan.”










Tidak ada komentar:
Posting Komentar