Let's inspire each other to be creative

Senin, 15 Agustus 2016

DARI KAMI UNTUK NEGERI || “Lomba Blog Dies Natalis Universitas Terbuka ke-32”



DARI KAMI UNTUK NEGERI



Di era modernisasi yang disertai derasnya arus globalisasi telah mengguncang setiap belahan dunia, termasuk di Indonesia. Ekonomi, sosial budaya, politik dan tentu teknologi yang jika sekejap saja kita lengah, maka tertinggallah sudah. Untuk menghadapinya, diperlukan Sumber Daya Manusia (SDM) dengan pengetahuan yang mumpuni baik secara teori maupun praktek di lapangan. Salah satu jalannya yaitu melalui “pendidikan”. Pendidikan yang seperti apa, bukankah Indonesia telah memiliki wajib dikdas Sembilan tahun, ribuan sekolah menengah dengan prestasi yang bersaing ketat, bahkan sebagian besar lulusannya telah mendapat pekerjaan. Lalu pendidikan yang seperti apa lagi?
 
Sebatas inikah pemikiran kita? Tidak inginkah meraka menjadi subjek penggerak perekonomian, pencetus ide-ide brilliant untuk menggerakan roda pemerintahan. Tidak inginkah menjadi  pemikir-pemikir yang tercatat dalam sejarah dunia ilmu pengetahuan, tak adakah yang ingin membawa peribumi selangkah lebih maju dari ketertinggalan dan keterbelakangan . Indonesia butuh generasi yang mampu membawa bangsa ke arah yang lebih baik, memiliki semangat perubahan ke arah yang lebih maju.

Tidak dapat dipungkiri, sebagai Negara multikultural yang sedang berkembang,  pendidikan di Indonesia masih memiliki beberapa kendala yang berdampak pada mutu pendidikan. Baik dari segi geografis, sosial ekonomi, bahkan budaya. Sebagai Negara kepulauan, letak geogafis memang terasa menjadi penyebab ketidak merataan dalam bidang pembangunan, pendidikan, kualitas dan ketesediaan SDM yang berdampak pada kesenjangan ekonomi.

Kehadiran Universitas dengan metode pembelajaran yang inovatif sangat di perlukan untuk merubah paradigma lama yang berkutat pada pemahaman bahwa pendidikan tinggi hanya untuk orang-orang kelas ekonomi menengah atas, sulit di jangkau oleh mereka yang berada di pedesaan atau di bagian terluar Indonesia, system pembelajaran tatap muka dan full time sehingga tidak ada kesempatan untuk kuliah sambil berkarier, dll. 


Universitas Terbuka sebagai Perguruan Tinggi Negeri  ke-45 di Indonesia yang diresmikan pada tanggal 4 september 1984 berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 41 tahun1984.



Sebagai Perguruan Tinggi yang penerapkan sistem “pendidikan terbuka dan jarak jauh (PTJJ)kehadiran Universitas Terbuka mampu menjadi angin segar bagi dunia pendidikan Indonesia. Konsep PTJJ berbeda dengan “kelas Jauh” yang secara status  dinyatakan illegal di Indonesia sesuai Edaran Dirjen Dikti No. 2360/D/T/2000 dan surat Edaran Dirjen Dikti No. 1017/E/T/2011 sehingga ijazah lulusan kelas jauh tidak diakui pemerintah, baik untuk kepentingan seleksi CPNS maupun kenaikan pangkat dan jabatan di pemerintahan. PTJJ sendiri merupakan gabungan dari konsep pendidikan terbuka dan jarak jauh. Makna "jarak jauh" berarti pembelajaran tidak dilakukan secara tatap muka, melainkan melalui media, baik cetak (modul) maupun non-cetak (audio/video, computer/internet, tv/radio). Makna "terbuka" artinya tidak ada batasan usia, tahun ijazah, masa belajar, waktu registrasi dan frekuensi mengikuti ujian. Dengan demikin  UT memberi kesempatan luas bagi setiap orang diseluruh tanah air bahkan yang berada di luar negeri untuk dapat melanjutkan pendidikan tinggi dan terbuka bagi semua kalangan yang telah lulus Sekolah Menengah Atas/Kejuruan tanpa dibatasi usia dan profesi. 



more info :

Sistem pembelajaran yang diterapkan dirasa sangat efektif bagi mereka yang tidak bisa melakukan perkuliahan secara tatap muka karena berbagai alasan. Dengan penekanan pada model belajar mandiri (value added of learning obtained as the result of students’ self-directed/independent learning process) yang menghendaki mahasiswa untuk belajar atas prakarsa dan inisiatif sendiri memungkinkan mahasiswanya untuk terus menggali wawasan secara luas dan tidak ketergantungan terhadap dosen atau pada pembelajaran di dalam kelas. Mereka bisa melakukan pembelajaran secara perorangan dengan menggali dari sumber-sumber yang tersedia, ataupun belajar secara bersama/kelompok dan memungkinkan juga melalui pemanfaatan teknologi yang ada yaitu melalui internet atau media sosial untuk saling berkomunikasi dan bertukar pikiran dengan mahasiswa lainnya. Hal ini berdampak positif bagi terlahirnya generasi-generasi yang kreatif, mandiri, kritis  menanggapi perubahan dan problematika kehidupan masyarakat serta memiliki pemikiran luas untuk dapat bersaing dalam kehidupan global.


Namun demikian , penulis selaku mahasiswa Universitas Terbuka  tak menampik masih banyak  stigma-stigma negative mengenai universitas terbuka yang tersebar di masyarakat. Mulai dari UT adalah kampusnya untuk mengejar kesetaraan guru, ijazah UT sulit untuk cari kerja, kuliah di UT gampang masuk susah lulus, susah dapet nilai bagus, kualitas mahasiswa UT diragukan karena belajarnya aja online, bahkan masih ada yang bilang kalau UT ijazahnya nebeng dari Universitas lain, dan masih banyak yang lainnya.

Jujur, sering merasa tersudut ketika menghadapi pertanyaan-pertanyaan seperti itu, pernah juga merasa minder dan berkecil hati. bahkan rasanya lidah ini kelu untuk memperkenalkan bahwa “saya mahasiswa Universitas Terbuka”.

Banar saja, tak kenal maka tak sayang. Setelah beberapa lama kuliah di UT, mengenal dan mencoba mencari tahu seputar UT. Ternyata semua stigma mereka salah.

Perlu kita ketahui bahwa universitas terbuka adalah Pergurua Tinggi Negeri yang legal. Sudah diakui baik di dalam negeri dan juga dunia. Hal ini ditunjukkan dengan peran aktif  UT dalam organisasi PTJJ tingkat dunia seperti Open Education Consortium (OEC), Asian Association of Open Universities (AAOU) sebagai anggota Executive Board, The International Council for Open and Distance Education (ICDE) yang merupakan organisasi dunia di bidang PTJJ dimana Rektor UT menjadi presidennya, dan akhir-akhir ini UT dipercaya untuk mengelola ICDE Operational Network Asia Pasific yang merupakan kepanjangan tangan dari ICDE untuk tingkat regional.

Yang terbaru adalah diundangnya UT untuk ikut serta dalam pameran Ritech Expo yang diadakan di kawasan stadion Manahan, Surakarta pada tanggal 10-13 Agustus 2016 dalam rangka Peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (HARTEKNAS). Pameran dititikberatkan pada program-program layanan pembelajaran jarak jauh yang memanfaatkan inovasi teknologi secara maksimal oleh UT untuk memberi kemudahan belajar mahasiswa UT yang ada di pelosok negeri. Selain kemudahan, UT juga mengenalkan kepada masyarakat yang berada di pameran dengan produk unggulan UT berbasis teknologi terkini yang digunakan oleh mahasiswa pada saat menempuh studi di UT.

 more info :

Universitas Terbuka juga telah mendapatkan akreditasi, baik akreditasi nasional maupun internasional. Secara internasional, UT telah memperoleh Akreditasi Internasional dan Sertifikasi Kualitas dari the International Council for Open and Distance Education (ICDE) Standard Agency (ISA), dan UT telah mendapatkan sertifikasi ISO 9001:2000 dari Badan Sertifikasi SAI Global dan SGS. Di samping itu, sebagian besar program studi di UT telah mendapatkan akreditasi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan TInggi (BAN-PT).

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa:

1)    Masalah nilai dan ketepatan lulus, yang salah bukan institusinya tapi bagaimana pola kita kita belajar dan tekad untuk berhasil. Yang penting harus memiliki minat belajar, disiplin dan komitmen.
2)   Untuk hal pekerjaan, setiap orang memiliki kesempatan yang sama tinggal bagaimana kita mempersiapkan diri menjadi pribadi yang berkualitas. Ijazah UT memiliki civil effect yang sama dengan ijazah yang dikeluarkan PTN lain. Kalau memang lulusan UT susah diterima di dunia kerja, lantas kenapa sampai saat ini masih banyak yang mendaftar ke UT. Berdasarkan data yang diambil pada 7 Juli 2016, jumlah mahasiswa UT mencapai 299.317 orang, dengan rinciang :

  • Berdasarkan fakultas dan program





  • Berdasarkan kelompok umur  

  • Berdasarkan pulau

  • Berdasarkan profesi

  • Mahasiswa yang berada di luar Negeri
 
So, jika mereka masih mengatakan UT adalah kampusnya guru atau apalah, sepertinya mereka kurang update mengenai perkembangan pendidikan di UT  atau terlalu banyak mendengar katanya tanpa mencari kebenarannya.

Lulusan UT pun tak kalah hebat dengan lulusan perguruan tinggi lain. Hal ini terlihat dari sederet lulusannya yang mampu mengguncang tanah air bahkan dunia. Mereka mampu mengharumkan negeri dengan prestasinya. UT telah melahirkan jutaan lulusan  yang professional dan berkompeten dibidangnya. Telah lahir pula para pemikir dan penggerak serta penggebrak perubahan dalam pembangunan Tanah Air.

Melalui pendidikan, empat windu Universitas Terbuka berjaya mengibarkan sayap membangun negeri . Belum dapat dibilang tua, namun tidak juga seumur jagung. Berdiri diatas hukum yang berlaku di Tanah Air,  dari Nias sampai Pulau Rote kau tebarkan sinar-sinar penerang negeri. Kau tumbuhkan ambisi-ambisi para pejuang untuk melanjutkan pembangunan negeri, perbaikan pemerintahan menuju Good governance, perbaikan perekonomian menghadapi dunia global, pendidikan yang berkualitas dan penguasaan teknologi menghadapi derasnya arus globalisasi. jutaan generasi emas  telah kau lahirkan.


 


Bersama Universitas Terbuka kami siap mempertahankan kemerdekaan dan menjaga keselamatan NKRI, DARI KAMI UNTUK NEGERI.


Salam Generasi Emas,

Maya Sofa
Mahasiswi S1 Ilmu Pemerintahan, FISIP UT

“Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog dari Universitas Terbuka dalam rangka memperingati HUT Universitas Terbuka ke-32. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan jiplakan.”


@Lomba Blog Dies Natalis Universitas Terbuka ke-32
















 






Tidak ada komentar:

Posting Komentar